Indonesia Gagal Total di SEA Games 2025, Mungkinkah Karma Sedang Berjalan?

 

Foto Ltihan Timnas U22 Indonesia (dok/PSSI)


INDOFOOTBALLNEWS.WEB.ID - Kegagalan Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 kembali membuka luka lama yang belum benar-benar sembuh. Garuda Muda dipastikan tersingkir dari fase grup setelah kalah 0-1 dari Filipina dan hanya menang 3-1 atas Myanmar. Hasil itu tak cukup untuk meloloskan Indonesia ke semifinal, sebuah capaian pahit, terlebih setelah berbagai pengorbanan dilakukan sepanjang persiapan.

Liga domestik dihentikan, jadwal kompetisi diacak ulang, dan FIFA Matchday dikesampingkan demi memaksimalkan proyek tim SEA Games. Semua perhatian dipusatkan ke skuad U-22. Karena itu, ketika hasil akhirnya justru jauh dari ekspektasi, wajar bila publik mulai mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: apa yang sebenarnya terjadi?

Di tengah kekecewaan itu, sebuah komentar lama kembali muncul ke permukaan. Komentar yang pernah ditulis oleh putra Shin Tae-yong, jauh sebelum SEA Games 2025 kembali ramai dibahas karena dianggap relevan dengan situasi sekarang.

Komentar itu berbunyi:

"Mari kita lihat bagaimana kalian akan melangkah lebih jauh tanpa dia. Dia telah memberikan segalanya untuk menempatkan Indonesia pada tahap ini. Banyak yang mau aku katakan tentang bagaimana PSSI memperlakukan ayahku selama 5 tahun, tapi aku akan tetap diam.”

Ucapan yang dulu dianggap sekadar ungkapan emosional kini disorot ulang oleh publik. Banyak yang menilai pernyataan itu seperti “peringatan” yang kini menemukan momentumnya, terutama setelah pemecatan Shin Tae-yong dilakukan mendadak, tanpa penjelasan kuat, dan di tengah persiapan kompetisi besar.

Di kalangan suporter, muncul pertanyaan: apakah kegagalan ini bagian dari “karma sepakbola”? Karma atas keputusan tergesa-gesa, komunikasi yang kabur, dan strategi jangka panjang yang tidak konsisten?

Tentu saja, sepak bola tidak bisa direduksi menjadi satu keputusan atau satu figur. Banyak faktor berperan, mulai dari kualitas pelatih baru, arah program pembinaan, hingga kondisi mental pemain. Namun opini publik tak bisa dibendung. Nama Erick Thohir kembali menjadi sorotan karena kebijakan yang dinilai berhubungan langsung dengan performa tim.

Kegagalan di SEA Games 2025 ini seharusnya menjadi alarm keras. Sepak bola Indonesia tak akan maju tanpa stabilitas, visi jangka panjang, dan konsistensi program. Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar kenapa gagal, tetapi apakah ini tanda bahwa ada persoalan lebih dalam yang selama ini diabaikan?


Lebih baru Lebih lama